Kekalahan kaum Muslimin dalam
Perang Salib terus berjatuhan ke tangan lawan hingga Granada, kerajaan
Muslim yang terakhir di Andalusia, jatuh pada tahun 1492
KALAH dan menang merupakan hal yang biasa terjadi dalam perjalanan
sebuah ummat. Tak selamanya suatu ummat mengalami kemenangan dalam
perjalanan sejarahnya, dan tak selamanya juga ia mengalami kekalahan.
Jika suatu bangsa atau ummat terus menerus menang, maka kita tidak akan
pernah menyaksikan terjadinya pergantian kepemimpinan bangsa-bangsa di
dalam sejarah. Dan kalau sebuah ummat atau bangsa terus menerus kalah,
maka sudah tentu ia tidak akan mampu muncul sebagai sebuah ummat, karena
ia telah kalah dan hancur sejak awal kelahirannya. Terjadinya
pergantian menang dan kalah ini telah diisyaratkan di dalam al-Qur’an:
إِن يَمْسَسْكُمْ قَرْحٌ فَقَدْ مَسَّ الْقَوْمَ قَرْحٌ مِّثْلُهُ
وَتِلْكَ الأيَّامُ نُدَاوِلُهَا بَيْنَ النَّاسِ وَلِيَعْلَمَ اللّهُ
الَّذِينَ آمَنُواْ وَيَتَّخِذَ مِنكُمْ شُهَدَاء وَاللّهُ لاَ يُحِبُّ
الظَّالِمِينَ
“Jika kamu (pada perang Uhud) mendapat luka, maka sesungguhnya kaum
(kafir) itupun (pada perang Badar) mendapat luka yang serupa. Dan masa
(kejayaan dan kehancuran) itu Kami pergilirkan diantara manusia (agar
mereka mendapat pelajaran). dan supaya Allah membedakan orang-orang yang
beriman (dengan orang-orang kafir) supaya sebagian kamu dijadikan-Nya
(gugur sebagai) syuhada’ . Dan Allah tidak menyukai orang-orang yang
zalim. “ (QS ali Imron (3): 140)
Silih bergantinya menang dan kalah semestinya menjadi pelajaran
berharga bagi suatu ummat atau bangsa. Kemenangan tidak semestinya
menjadikan mereka sombong, lupa diri, dan hilang kewaspadaan. Walaupun
kemenangan itu menggembirakan, tidak tertutup kemungkinan suatu saat ia
akan berbalik menjadi kekalahan.
Demikian juga, kekalahan tidak semestinya menjadikan suatu ummat
lemah atau kehilangan optimisme. Karena boleh jadi, kekalahan itu suatu
saat akan berganti menjadi kemenangan. Yang penting adalah bagaimana
menjadikan kekalahan itu sebagai tantangan untuk bangkit kembali dan
akhirnya menang.
Andalusia: kemenangan yang berganti menjadi kekalahan
Kemenangan yang cepat dan spektakuler, ternyata bisa juga berubah
menjadi kekalahan, walaupun kekalahan itu merayap secara perlahan-lahan
sebelum akhirnya menjadikan si pemenang takluk sepenuhnya. Ini yang
pernah terjadi pada peradaban Islam di Andalusia. Kita mengetahui bahwa
kaum Muslimin menang dengan cepat dalam proses penaklukkan Spanyol.
Tariq bin Ziyad menyeberang Selat Gibraltar pada tahun 92 H yang
bertepatan dengan tahun 711 Masehi. Proses penaklukkannya berlangsung
cepat, karena Kerajaan Visigoth di Spanyol pada masa itu sudah mengalami
banyak kemunduran. Sebagian penduduk Spanyol justru melihat kedatangan
pasukan Tariq sebagai pembebas, bukan sebagai penjajah. Hanya dalam
waktu dua atau tiga tahun, hampir seluruh wilayah Spanyol jatuh ke
tangan kaum Muslimin. Spanyol kemudian dikenal sebagai Andalusia oleh
kaum Muslimin dan pada wilayah ini berkembang peradaban Islam yang cukup
penting untuk waktu yang panjang, yaitu selama hampir delapan abad.
Kemenangan Tariq bin Ziyad, yang didukung juga oleh atasannya Musa
bin Nusayr, merupakan sebuah kemenangan yang cepat dan gemilang.
Walaupun pada awalnya keadaan tidak stabil, tetapi sekitar setengah abad
kemudian berkembang peradaban Islam yang sangat penting di wilayah ini.
Perkembangan pesat ini terutama berlaku setelah terbentuknya kerajaan
Bani Umayyah dengan masuknya Abdurrahman al-Dakhil ke Andalusia, setelah
Dinasti Umayyah di Damaskus runtuh dan digantikan oleh Dinasti
Abbasiyah.
Saat melihat kemenangan dan kejayaan Andalusia, mungkin tidak ada
yang pernah berpikir tentang kemungkinan terjadinya kekalahan. Karena
peradaban Andalusia sangat kuat, maju, dan indah. Ilmu pengetahuan
berkembang dengan sangat pesat. Tetapi kenyataan menunjukkan hal yang
berbeda. Mereka pada akhirnya berada di pihak yang kalah oleh
kerajaan-kerajaan Kristen di Spanyol utara yang tumbuh membesar secara
perlahan dan belakangan mampu menaklukkan wilayah Muslim sedikit demi
sedikit hingga yang terakhir ini semakin terdesak ke selatan.
Bagaimana kaum Muslimin yang menang gemilang pada akhirnya justru
mengalami kekalahan dan penaklukkan kembali (reconquista) oleh lawannya?
Ternyata hal ini memiliki sejarah yang panjang, bahkan sejak awal
kemenangan kaum Muslimin sendiri. Ketika kaum Muslimin menaklukkan
Andalusia pada tahun 711-714 Masehi, ada sekelompok kecil sisa-sisa
pasukan Visigoth yang melarikan diri ke sebuah dataran tinggi di bagian
utara Andalusia, dipimpin oleh seorang bernama Pelayo. Mereka
bersembunyi di dataran tinggi, sementara pasukan Muslim berjaga-jaga di
bawah. Mereka bertahan tanpa makanan dan minuman, hanya sekedar dari apa
yang bisa mereka dapatkan dari lingkungan di sekitar mereka. Mereka
kelaparan dan jumlah yang mampu bertahan menjadi tinggal tiga puluh
hingga empat puluh orang saja.
Pasukan Muslim yang berjaga di bawah akhirnya memutuskan untuk
meninggalkan mereka, karena orang-orang ini dianggap sudah tidak lagi
mempunyai kekuatan. Tetapi Pelayo dan pasukannya yang kecil dan lemah
ini ternyata perlahan-lahan mampu bangkit dan nantinya mendirikan
Kerajaan Asturias di utara Andalusia. Beberapa abad kemudian,
orang-orang Kristen di Utara semakin kuat, dapat membentuk beberapa
kerajaan, dan perlahan-lahan mulai merebut kembali wilayah-wilayah
Muslim di Selatan. Pada tahun 1085, kerajaan Kristen di utara berhasil
merebut kota Toledo. Pada tahun 1236, giliran kota Cordova yang jatuh ke
tangan pasukan Kristen, padahal dulunya Cordova merupakan pusat
pemerintahan Islam di Andalusia. Tentang jatuhnya wilayah-wilayah Muslim
ini, al-Maqqari (1984), seorang sejarawan, mengutip perkataan seorang
ulama Andalusia:
Situasi di mana kaum Muslimin pada hari itu mengepung gunung serta
beberapa manusia terpojok yang melarikan diri ke atasnya, terbukti di
belakang hari sebagai sebab utama dari sejumlah penaklukkan di mana
generasi keturunan Pelayo berhasil melakukan penaklukkan atas
wilayah-wilayah Muslim yang keadaannya semakin meningkat pada
tahun-tahun belakangan ini, yaitu bahwa musuh Allah tersebut telah
mereduksi banyak kota yang ramai penduduknya; dan, pada saat saya
menulis sekarang ini, kota Cordova yang agung … telah jatuh ke tangan
orang-orang kafir itu. Semoga Allah menundukkan mereka!
Sebenarnya, Pelayo bukanlah satu-satunya faktor yang mengantarkan
pada kekalahan Muslim di Andalusia. Masalahnya ada di kaum Muslimin
sendiri yang belakangan mengalami perpecahan dan sibuk dengan kekayaan
duniawi. Kalaupun Pelayo dan pasukannya ketika itu berhasil dikalahkan,
mungkin akan tetap ada ’Pelayo-Pelayo’ lain yang mengancam keberadaan
mereka.
Kekalahan kaum Muslimin masih belum berakhir sampai di situ. Wilayah
mereka terus berjatuhan ke tangan lawan hingga Granada, kerajaan Muslim
yang terakhir di Andalusia, jatuh pada tahun 1492. Bersama dengan
dikuasainya negeri tempat keberadaan istana Alhambra itu, kemenangan dan
kejayaan gemilang kaum Muslimin Andalusia menjadi hilang tak berbekas.
Kemenangan berbalik menjadi kekalahan. Dan hal itu disebabkan karena
mereka mengingkari nikmat-nikmat yang telah mereka terima sebelumnya.
Hal ini seperti yang disebutkan al-Qur’an:
وَضَرَبَ اللّهُ مَثَلاً قَرْيَةً كَانَتْ آمِنَةً مُّطْمَئِنَّةً
يَأْتِيهَا رِزْقُهَا رَغَداً مِّن كُلِّ مَكَانٍ فَكَفَرَتْ بِأَنْعُمِ
اللّهِ فَأَذَاقَهَا اللّهُ لِبَاسَ الْجُوعِ وَالْخَوْفِ بِمَا كَانُواْ
يَصْنَعُونَ
”Dan Allah telah membuat suatu perumpamaan (dengan) sebuah negeri
yang dahulunya aman lagi tenteram, rezkinya datang kepadanya melimpah
ruah dari segenap tempat, tetapi (penduduk)nya mengingkari ni’mat-ni’mat
Allah. karena itu Allah merasakan kepada mereka pakaian kelaparan dan
ketakutan, disebabkan apa yang selalu mereka perbuat.” (QS an Nahl (16):
112).* bersambung bagian 2
Penulis adalah kandidat doktor bidang Sejarah di IIUM yang juga penulis buku-buku best seller
Rep: Administrator
Editor: Cholis Akbar